PCNU Parepare Touring Religi ke Mandar, Ziarah Waliullah hingga Telusuri Sejarah Islam dan Budaya Sulbar

SMARTNEWSCELEBES, POLMAN – Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kota Parepare, Sulawesi Selatan, menggelar touring religi ke wilayah Mandar, Sulawesi Barat, pada 24–25 Oktober 2026. Kegiatan ini bertujuan mempererat silaturahmi antartokoh agama, mengunjungi pondok pesantren dan masjid bersejarah, serta berziarah ke makam para waliullah, ulama, dan tokoh penting dalam perjalanan sejarah Islam di Tanah Mandar.

Rombongan dipimpin Ketua PCNU Kota Parepare, Kiai Sabuddin, dengan melibatkan sejumlah kiai, pimpinan pondok pesantren, kepala madrasah, dosen, serta unsur Ansor.

Perjalanan dimulai pada Sabtu (24/10/2026). Sebelum memasuki wilayah Sulawesi Barat, rombongan terlebih dahulu berziarah ke makam Wali Pitue Petta Lasinrang di Kabupaten Pinrang.

Perjalanan kemudian dilanjutkan menuju Pondok Pesantren Al-Risalah Batetangnga, Kabupaten Polewali Mandar. Kedatangan rombongan disambut hangat pimpinan pesantren, Kiai Dr. Ali Rusdi Bedong.

Dalam perbincangan tersebut, rombongan memperoleh informasi mengenai perkembangan Pondok Pesantren Al-Risalah yang berdiri sejak 2015 dan kini membina sekitar 1.000 santri.

Pesantren tersebut terus mengembangkan pendidikan keagamaan dengan menanamkan ilmu pengetahuan, kualitas akademik, serta pembentukan akhlak kepada para santri.

Kunjungan ini menjadi salah satu kesempatan bagi rombongan PCNU Parepare untuk bertukar pengalaman mengenai pengelolaan pesantren dan pembinaan generasi muda Islam.

Ziarah Ulama dan Menelusuri Jejak Sejarah Mandar

Setelah mengunjungi Pondok Pesantren Al-Risalah, rombongan melanjutkan perjalanan menuju Kabupaten Majene untuk berziarah ke makam almarhum Prof. Dr. KH. Sahabuddin.

Rangkaian kegiatan kemudian diteruskan dengan ziarah ke makam Syekh Abdul Mannan dan kompleks pemakaman para raja Mandar di Cilallang, Kecamatan Banggae, Kabupaten Majene.

Perjalanan religi tersebut berlanjut ke makam Tosalama Annangguru Malolo di Desa Lambanan, Kecamatan Campalagian, Kabupaten Polewali Mandar. Di kawasan ini, rombongan juga mengunjungi masjid tua yang menjadi bagian penting dari jejak perkembangan Islam di Mandar.

Rombongan kemudian berziarah ke makam KH. Muhammad Saleh sebelum melanjutkan kunjungan ke kediaman budayawan Mandar, Muhammad Ridwan Alimuddin.

Dalam pertemuan tersebut, rombongan berdiskusi mengenai sejarah, kebudayaan, dan perjalanan pembentukan Provinsi Sulawesi Barat.

Muhammad Ridwan Alimuddin dikenal sebagai penulis yang menaruh perhatian terhadap sejarah dan kebudayaan Mandar. Ia juga menulis buku mengenai pemekaran Sulawesi Barat serta berbagai karya lain yang berkaitan dengan sejarah dan kehidupan masyarakat setempat.

Dalam diskusi itu, KH. M. Shodiq Asli Umar, M.Sos., menyoroti pentingnya proses penelitian yang panjang dalam menghasilkan karya sejarah yang dapat dipertanggungjawabkan.

Menurutnya, penulisan sejarah membutuhkan sumber informasi yang akurat, bukti yang jelas, serta keterangan dari tokoh atau saksi yang terlibat langsung dalam peristiwa yang diteliti.

Diskusi tersebut menjadi ruang pertukaran pengetahuan mengenai pentingnya menjaga dokumentasi sejarah agar dapat dipelajari oleh generasi berikutnya.

Mengunjungi Masjid Imam Lapeo

Menjelang malam, rombongan melanjutkan perjalanan ke Masjid Imam Lapeo, yang berkaitan erat dengan perjuangan dakwah ulama besar Mandar, KH. Muhammad Thahir atau lebih dikenal sebagai Imam Lapeo.

Di masjid tersebut, rombongan melaksanakan salat Magrib sekaligus bersilaturahmi dengan cucu Imam Lapeo.

Dalam perbincangan yang dipandu Dr. H. Islamul Haq, Lc., M.A., cucu Imam Lapeo menyampaikan pesan tentang pentingnya keikhlasan dalam mengabdi kepada agama dan membantu sesama.

Ia menjelaskan bahwa keikhlasan dan semangat memberi merupakan bagian dari amalan yang senantiasa diajarkan serta dicontohkan oleh kakeknya.

Pesan tersebut mengingatkan rombongan bahwa perjuangan dakwah tidak hanya dilakukan melalui penyampaian ilmu agama, tetapi juga melalui ketulusan dalam melayani masyarakat dan kepedulian terhadap sesama.

Setelah rangkaian kunjungan tersebut, rombongan menuju kediaman Dr. H. Abdillah, Lc., M.H.I., untuk beristirahat sebelum melanjutkan kegiatan pada hari berikutnya.

Kunjungi Masjid Tua dan Pondok Pesantren Khalwatiyah

Pada Minggu (25/10/2026), rombongan PCNU Parepare melanjutkan agenda dengan mengunjungi Masjid Raya Campalagian, yang dalam kegiatan tersebut diperkenalkan sebagai salah satu masjid tertua di Sulawesi Barat.

Rombongan kemudian bersilaturahmi ke Pondok Pesantren Khalwatiyah Manahilul Irfan yang dipimpin Prof. Dr. KH. Ridwan Tahir, Lc., M.A.

Dalam kunjungan tersebut, pimpinan pesantren memberikan amalan kepada rombongan sebagai bagian dari pembinaan spiritual dan penguatan nilai-nilai keagamaan.

Kunjungan ke pesantren ini sekaligus menjadi momentum mempererat hubungan antara ulama, lembaga pendidikan Islam, dan pengurus organisasi keagamaan lintas daerah.

Hadiri Maulid Nabi, Tekankan Pentingnya Sejarah Islam Mandar

Masih dalam rangkaian kegiatan di Campalagian, rombongan PCNU Parepare menghadiri peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW di Masjid Wakaf Darul Qurro.

Masjid tersebut berada di bawah naungan yayasan yang diketuai Al-Ustaz Dr. H. Abdillah, Lc., M.H.I., yang juga dikenal sebagai dosen IAIN Parepare dan Bendahara Umum PBNU Parepare.

Dalam perbincangan bersama rombongan, Abdillah menceritakan sejarah pembangunan masjid tersebut. Menurut penuturannya, lokasi itu pada awalnya merupakan tempat ibundanya mengajar mengaji dan sempat direncanakan menjadi rumah tinggal.

Namun, sang ibu memilih mewakafkan tempat tersebut untuk pembangunan masjid agar dapat dimanfaatkan bagi kepentingan umat.

Kisah tersebut menjadi salah satu pelajaran mengenai pentingnya wakaf dan ketulusan dalam membangun sarana ibadah demi kebermanfaatan masyarakat.

Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW itu menghadirkan Prof. Dr. H. Idham Khalik, M.Pd., sebagai pembawa hikmah maulid.

Dalam ceramahnya, ia menekankan pentingnya mempelajari sejarah masuk dan berkembangnya Islam di Sulawesi Barat, khususnya di wilayah Mandar.

Menurutnya, pemahaman terhadap sejarah Islam diperlukan untuk memperkuat keyakinan dan pemahaman keagamaan generasi muda, sekaligus menjaga mereka dari pengaruh paham yang berpotensi merusak akidah.

Ia juga mengingatkan bahwa pelestarian budaya lokal perlu berjalan beriringan dengan pelaksanaan ajaran Islam sesuai syariat.

Dengan memahami sejarah dan tradisi keagamaan yang diwariskan para ulama terdahulu, masyarakat diharapkan mampu menjaga identitas budaya Mandar tanpa meninggalkan nilai-nilai Islam.

Memperkuat Silaturahmi dan Menjaga Warisan Ulama

Touring religi PCNU Parepare ke Mandar bukan sekadar perjalanan mengunjungi sejumlah tempat bersejarah. Kegiatan ini juga menjadi upaya memperkuat silaturahmi ant ulama, memperluas wawasan sejarah Islam, serta menumbuhkan kepedulian terhadap warisan keagamaan dan kebudayaan Nusantara.

Melalui kunjungan ke pondok pesantren, masjid tua, makam ulama, dan tokoh budaya, rombongan memperoleh kesempatan untuk mengenal lebih dekat perjalanan dakwah Islam serta peran para tokoh dalam membentuk kehidupan masyarakat Mandar.

Setelah menyelesaikan seluruh rangkaian kegiatan, rombongan PCNU Kota Parepare bertolak kembali ke Parepare dengan selamat.

Alhamdulillah, perjalanan tersebut diharapkan menjadi pengalaman spiritual sekaligus memperkuat komitmen para peserta dalam melanjutkan perjuangan dakwah, pendidikan, dan pengabdian kepada masyarakat. (*smartnews)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here