Oleh: Gustam, M.Pd
Ketua Pascasarjana IAIN Parepare/ Pemerhati Sosial

Sinergi antara umara (pemimpin), ulama (tokoh agama), dan masyarakat merupakan fondasi utama dalam membangun peradaban yang kokoh. Dalam perspektif Islam, tiga unsur ini bukanlah entitas yang berjalan sendiri-sendiri, melainkan saling melengkapi dan menguatkan. Ketika ketiganya berjalan harmonis, lahirlah stabilitas sosial, keadilan, serta kesejahteraan yang dirasakan bersama.

Al-Qur’an mengingatkan pentingnya persatuan dan kebersamaan:

﴿وَاعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللَّهِ جَمِيعًا وَلَا تَفَرَّقُوا﴾
(QS. Ali ‘Imran: 103)

Ayat ini menjadi dasar bahwa kekuatan umat terletak pada kesatuan visi dan komitmen dalam menegakkan nilai-nilai ilahiah.

Kriteria Pemimpin dalam Perspektif Islam

Islam telah memberikan panduan jelas mengenai kriteria pemimpin ideal. Setidaknya ada empat sifat utama yang harus melekat dalam diri seorang pemimpin, sebagaimana dicontohkan oleh Rasulullah ﷺ:

1. Amanah

Allah berfirman:

﴿إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُكُمْ أَنْ تُؤَدُّوا الْأَمَانَاتِ إِلَى أَهْلِهَا﴾
(QS. An-Nisa: 58)

Kepemimpinan adalah amanah, bukan privilege. Ia adalah tanggung jawab yang kelak dipertanggungjawabkan di hadapan Allah.

2. Shiddiq (Jujur)

﴿يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَكُونُوا مَعَ الصَّادِقِينَ﴾
(QS. At-Taubah: 119)

Kejujuran menjadi pondasi kepercayaan publik. Tanpa integritas, legitimasi moral seorang pemimpin akan runtuh.

3. Fathanah (Cerdas dan Bijaksana)

Pemimpin harus memiliki kapasitas intelektual dan kebijaksanaan dalam mengambil keputusan strategis.

4. Tabligh (Transparan dan Komunikatif)

﴿الَّذِينَ يُبَلِّغُونَ رِسَالَاتِ اللَّهِ﴾
(QS. Al-Ahzab: 39)

Transparansi dan komunikasi yang baik mencegah kesalahpahaman serta memperkuat partisipasi masyarakat.

Keempat sifat ini adalah refleksi dari kepemimpinan Rasulullah ﷺ yang mampu menyatukan umat, membangun peradaban, serta menegakkan keadilan sosial.

Fenomena Kepemimpinan Kontemporer

Realitas hari ini menunjukkan adanya tantangan besar dalam praktik kepemimpinan. Tidak sedikit pemimpin yang terjebak pada pragmatisme politik, pencitraan, atau kepentingan kelompok tertentu. Amanah terkadang tergeser oleh kepentingan pribadi, kejujuran terkikis oleh kompromi politik, kecerdasan tidak selalu diiringi kebijaksanaan moral, dan komunikasi publik sering kali lebih bersifat retorik daripada substantif.

Di sisi lain, ulama kadang terjebak dalam polarisasi, sementara masyarakat mudah terseret arus informasi yang belum tentu benar. Padahal, jika umara berjalan dengan integritas, ulama memberikan bimbingan moral yang objektif, dan masyarakat bersikap kritis namun santun, maka harmoni sosial akan terwujud.

Islam menegaskan pentingnya ketaatan yang proporsional:

﴿يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُولِي الْأَمْرِ مِنْكُمْ﴾
(QS. An-Nisa: 59)

Ayat ini menunjukkan bahwa ketaatan kepada pemimpin harus berlandaskan ketaatan kepada Allah dan Rasul-Nya.

Mengembalikan Spirit Kepemimpinan Islam

Sinergitas umara, ulama, dan masyarakat bukan sekadar wacana, melainkan kebutuhan mendesak. Kita memerlukan pemimpin yang amanah, jujur, cerdas, dan transparan. Kita membutuhkan ulama yang menjadi penyejuk dan pengingat moral kekuasaan. Kita juga memerlukan masyarakat yang aktif, kritis, namun tetap menjaga adab dan persatuan.

Sejarah Islam telah membuktikan bahwa ketika nilai-nilai ini ditegakkan, lahirlah masyarakat yang adil dan makmur. Sebaliknya, ketika kepemimpinan menjauh dari nilai-nilai ilahiah, ketimpangan dan krisis kepercayaan menjadi konsekuensi yang tak terhindarkan.

Karena itu, sudah saatnya kita kembali meneguhkan komitmen untuk menerapkan kepemimpinan sebagaimana dicontohkan Islam dan Rasulullah ﷺ—kepemimpinan yang berorientasi pada keadilan, pelayanan, dan kemaslahatan umat.

Jika sinergi ini terbangun, maka cita-cita besar umat akan terwujud:

بَلْدَةٌ طَيِّبَةٌ وَرَبٌّ غَفُورٌ
“Negeri yang baik dan Tuhan Yang Maha Pengampun.”
(QS. Saba’: 15)

Inilah visi ideal yang harus terus kita perjuangkan bersama—membangun masyarakat yang religius, adil, dan sejahtera, dengan kepemimpinan yang berpijak pada nilai-nilai Islam. (*)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here